![]() |
|||
|
Monday, April 09, 2007
Engkau Cemerlang Sedikit berganti template, agar terbetik ceria siapapun yang berkunjung. Lama-kelamaan hitam terkesan sebagai ekspresi depresi yang menyesakkan, bahkan yang berkunjung pun seolah ikut merasa sesak. Tidak ada kesejukan membuncah. jadi, berubah sajalah. Sungguhpun belum sempurna benar, paling tidak template baru ini lebih terkesan optimis. Semoga saja memang demikian adanya Kalian semua cemerlang, teman-temanku. Kita semua cemerlang. Pemahaman itu tumbuh bersinar hari ini. Kita semua cemerlang. Dalam bidang masing-masing, hingga tak ada masa untuk sekadar memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri. Masing-masing kita telah melewati banyak hal dalam perjalanan hidup ini, yang mungkin tidak semuanya satu sama lain mengetahui. Pahit, getir, bahagia, ceria, tawa, dan tangis saya yakin telah mewarnai hari-hari kita selama ini. Sedikit banyak semua itu tentulah mempengaruhi karakter yang kita miliki, kita sadari maupun tidak. Namun satu hal yang pasti, ada satu karakter dasar kita yang tidak akan berubah. Cemerlang. Kita semua cemerlang. Dalam bidang kita masing, dan hanya kita saja yang dapat mengeluarkan kilau cemerlang yang ada dalam diri kita. Sampai saat ini saya yakin kalian semuanya memliki kilau itu, paling tidak dalam aura kalian. Ketika ditanya siapakah yang paling memahami siapa sebenarnya kita ini, jawabnya tidak lain adalah ALLAH dan diri kita sendiri. Ketika ditanya siapakah yang berhak meenentukan sesuatu tentang diri kita, jawabnya tidak lain adalah ALLAH dan diri kita sendiri. Orang lain hanyalah penonton yang mencoba beranalisis tentang diri kita, seolah paling memahami kita, paling berhak atas kita. Namun itu hanyalah "seolah", bukan yang "sesungguhnya". Jadi, jangan ragu, teman.. selama kita memahami dengan baik diri kita dan menentukan yang terbaik untuk diri kita, maka kita akan berkilau cemerlang. Kuncinya satu, bersyukur sajalah atas apa yang kita punya, atas apa yang ada dalam diri kita. Insya ALLAH kita akan memperoleh pemahaman dan petunjuk tentang kehidupan kita. Amiin uni Simply Stated at 07:48 pm silakan menulis di sini^_^ Permalink Sunday, March 25, 2007 Pinta ***
tidak ada yang berubah dulu, sekarang, atau nanti tidak ada yang berganti alasannya entahlah jika ada pinta hanya satu dulu, sekarang, atau nanti mohon bimbing senantiasa ke jalan yang satu jalan yang hakiki aku ridho atasmu semoga engkau ridho akanku itu saja *** uni Simply Stated at 09:49 pm eh ada yg nulis ^_^ (1) Permalink Tuesday, March 20, 2007 ^_^ Ada suatu pelajaran yang masih segar terpetik dari tangkainya. Bahwa terjun dalam dunia kerja itu serasa bermain catur. Ada permainan strategi di dalamnya. Tidak selamanya melangkah maju akan mempercepat pencapaian tujuan kita. Ada kalanya yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kita harus melangkah mundur. Entah selangkah, entah beberapa langkah. Melangkah mundur adalah ketika kita mengesampingkan ego kanak kita yang ingin menang untuk segera mencapai tujuan dan menggantinya dengan ego dewasa yang mencoba memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dan bukti nyatanya adalah dengan meminta maaf dengan lapang dada atas kesalahan yang kita perbuat dan berbesar hati menerima luapan kekesalan orang lain yang terkena dampak kesalahan kita. Tidak mengapa, toh memang itu benar2 salah kita. Pagi ini suasana kantor agak sedikit kaku karena kehilafan saya mengkoordinir acara hari ini akhir pekan lalu. Ada semacam kegamangan bertemu dengan orang kantor ketika memasuki pelataran kampus. Namun masalah ada untuk dihadapi bukan? Dihadapi dan diselesaikan. Janganlah menjadi orang yang kerdil hati lagi pengecut. Percayalah semua pasti ada jalan keluar. Jadi, beritikad baik sajalah. Untunglah kesibukan kantor pagi ini memberikan cukup waktu untuk sekadar membaca situasi. Mencari kesempatan untuk berbicara empat mata dalam suasana yang alami dan memungkinkan segala uneg2 keluar dengan ringan. Tidak mengapa jika uneg2 itu terdengar begitu menyakitkan, toh memang demikian adanya. Dan itu pun akan meringankan beban hati si empunya dan membuat saya lebih memahami persoalannya. Berawal dari kata, " Pak, saya minta maaf.." mengalirlah semua kekesalan yang terpendam sejak hari Ahad lalu. Saya akhirnya memahami alasan kekesalannya. Dan hari ini, semuanya berjalan dengan riang. Tanpa beban. Semua orang bekerja dengan ringan, entah mengapa. Mata mereka tampak sering berbinar. Entah mengapa. Saya pun turut berbahagia untuk mereka. Lain kalilah saya bercerita tentang mereka. Orang2 hebat yang kadang terlupakan. Insya ALLAH
uni Simply Stated at 04:14 pm silakan menulis di sini^_^ Permalink Saturday, March 03, 2007 next puzzle kesimpulan yang dapat saya ambil setelah beberapa lama kerja di pasca adalah betapa di sinilah saya berjumpa dengan orang2 yang di kampus sulit terdeteksi keberadaannya. Orang2 di sini adalah para doktor dan profesor yang pada dasarnya, menurut analisis saya, menjadi dosen adalah sebagai pekerjaan sampingan. Tentu itu karena saking banyaknya proyek yang mereka tangani sehingga mereka lebih mudah dijumpai di kantor proyek mereka daripada di kampus. Terkecuali di lokasi saya kerja. Untuk itulah saya berkesimpulan seperti di muka. tentu saja, ini tidak terlepas dari label pascasarjana "penyelenggaraan khusus" yang menyertai lokasi saya bekerja. Tapi ini masih sebatas analisa saya loh. Meski demikian memang yang 'khusus' tidak hanya dosennya, namun juga mahasiswa, fasilitas, dan tentu bayarnya. Hehehe.. Di tempat ini saya sering berjumpa mahasiswa yang tidak biasa. Dari kalangan pejabat pemerintah, eksekutif perusahaan, hingga selebriti. Namanya juga khusus. Namun entahlah, buat saya mereka semua sama. Mendapatkan standdar pelayanan yang sama. Biasa aja, kata nda. Dan memang biasa aja kok. Hehehe. Meski begitu, pastinya kerja di sini membuat saya lebih banyak belajar tentang manusia. Betapa tingginya tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi tidak menjamin korelasi positif dengan tingginya sikap dan perilaku. Profesor tapi kebul2 merokok di tempat yang jelas2 ada tulisan "dilarang merokok". Saya yakin kalo beliau tentu tidak buta huhruf, namun entahlah mengapa tulisan larangan itu tinggallah tulisan membisu tanpa makna... Benar kata nda bahwa yang terjadi di negara kita selama ini belumlah pendidikan namun masih sebatas pengajaran. Memang mendidik itu bukan pekerjaan gampang, meski bukan berarti m ustahil untuk dilakukan. Itulah mengapa persiapan dan bekal untuk menjadi pendidik harus disiapkan benar. Ah, apa sih yang sebenarnya ingin saya tulis? Nggak jelas begini. Hehehe.. Intinya sih, ada sekeping puzzle lagi saya susun. Di sebuah tempat bernama sekolah pascasarjana. Yuk yuk semangat...!!!
uni Simply Stated at 04:01 pm silakan menulis di sini^_^ Permalink Tuesday, February 20, 2007 Lesu, Lelah, Penat Apa
yang Anda rasakan, lelah, letih, atau lesu? Meski ketiga kata ini
sering dipakai untuk merujuk pada kondisi tubuh capai, namun sebenarnya
memiliki arti yang berbeda.
"Kelelahan berbeda dengan kelesuan, karena kelesuan bisa menjadi tanda tidak adanya semangat pada tubuh", kata Dr Karin Olson dari Kanada. Selama bertahun-tahun Olson mempelajari kelesuan pada berbagai kondisi tubuh, mulai dari kelompok pasien kanker, hingga kelompok orang yang pekerjaannya dengan rasa depresi seperti atlet atau pekerja dengan sistem pergantian shift. "Kelompok-kelompok tersebut dipilih karena mereka mengalami kelesuan oleh berbagai sebab; sakit, pekerjaan, atau kegiatan di waktu senggang," kata Olson. Meski penyebab kelesuan berbeda, sebenarnya deskripsinya sama, hanya saja kemampuan adaptasi tubuh terhadap keadaan tersebut berlainan. Berdasarkan observasi yang dilakukannya, Olson menciptakan sendiri definisi untuk kata kelelahan, kepenatan dan kelesuan, yang dipercayanya sebagai cerminan dari energi yang dimiliki. Orang yang lelah masih memiliki sedikit energi tetapi mudah lupa dan kurang sabar. Ciri fisik yang dialami adalah otot lemah, biasanya bisa diredakan dengan beristirahat. Sebaliknya dengan rasa lesu yang memiliki ciri antara lain, sulit berkonsentrasi, gelisah, penurunan stamina secara bertahap, sulit tidur, dan secara emosi lebih sensitif. Mereka yang dalam kondisi ini juga sering menarik diri dari lingkungan sosial. Sementara itu, kondisi exhaust atau lelah yang berlebihan, ditandai dengan rasa acuh, tiba-tiba tak bertenaga, sulit tidur atau justru susah bangun tidur, dan menarik diri dari lingkungan. Salah membedakan kondisi-kondisi tersebut menurut Olson bisa-bisa salah penanganan. Jika Anda hanya merasa lelah, olahraga bisa meredakan kondisi tersebut. Tetapi aturan tersebut tidak berlaku untuk mereka yang mengalami kelesuan dan kepenatan. Jika yang dirasakan lesu atau penat, kafein dan stimulan yang lain bisa menyalakan kembali energi yang mulai surut. Demikian hasil dari penelitian yang dipublikasikan dalam Oncology Nursing Forum. Jadi, apa yang Anda rasakan, lesu, lelah atau penat? uni Simply Stated at 10:54 am eh ada yg nulis ^_^ (2) Permalink IndoGlish Ada orang Indonesia yang lagi jalan-jalan ke New York. tiba-tiba ditodong ama preman New York. Preman : Gimme your money...u bloody Asian!!! Indo : eee....delicious aja...you think easy find money ya??? done tired half dead, you delicious-delicous ask money from me!!! (eee...enak aja..lu pikir gampang cari duit ya? udah setengah mati, lu enak2 minta duit dari g!!!) Preman : ??*#@$%?? what???...i dont care Gimme your money!!! (sambil nodongin pisau) Indo : Ouch Gold....pity me donk...economy again down...if no money, children wife eat what??... (aduh mas....kasianin g donk...ekonomi lagi turun...kalau gak ada duit, anak istri makan apa?) Preman : Oh My Lord...what is he talking about?? (sambil nusuk pisau ke perut si indo) Indo : unlucky you...later i become ghost, feel it you!! ( sialan lu..nanti g jadi hantu, rasain lu) Preman : ???????????? ????????? (Indo vs. preman New York dari milis kpm39) *** Saya sering tersenyum sendiri jika menjumpai anekdot2 tentang komunikasi antarbahasa. Tersenyum bahkan sampai cekikikan sendiri saking lucunya. Sebenarnya percakapan seperti di atas tidak bisa digolongkan sebagai komunikasi mengingat tidak ada persamaan makna antara 2 orang itu, terutama dari persepsi si preman. Tapi its ok, namanya juga anekdot. Kalau dianalisis benar dari sudut komunikasi tar malah kek kuliah dasar komunikasi di semester 3 yang ternyata dah lama banget yak? Omong2 ttg nama mata kuliah ini, di jurusan saya biasa disingkat dengan "daskom". Nah, yang lucu kalau ada yang salah dengar sehingga yang terdengar adalah "baskom". Ada gitu, nama matakuliah baskom? basar komunikasi? Kembali ke anekdot di atas deh. Anekdot itu sepertinya alami banget yak? Maksudnya, dalam realitas, terkadang komunikasi dalam bahasa asing dilakukan dengan menerjemahkan apa adanya kata2 yang ingin kita ucapkan tanpa memperhatikan tatabahasa dan pakem yang berlaku dalam bahasa asing tersebut. Itu bisa terjadi bisa jadi karena yang ngomong memang tidak paham dengan tatabahasa tapi punya perbendaharaan vocab yang lumayan banyak atau bisa jadi dia sengaja mempermainkan lawan bicaranya. Eh, kalau ada kemungkinan yang lain kasih tau yak? Itulah mengapa kemudian muncul bahasa indoglish alias bahasa indonesia versi inggris. Maksudnya ya itu, bahasa indonesia yang diinggriskan dengan menejemahkan kata per kata apa adanya tanpa memperhatikan tatabahasanya. Bisa jadi bahasa di dunia yang ke lima puluh sekian kali yak? Tapi indoglish gak sendiri rupanya. Saya pernah mendengar kalau di negara tetangga kita yang kecil mungil tapi gemah ripah loh singapurani ( Nah, kalo lawan bicara yang notabene orang setempat mendapati kawan bicaranya menggunakan bahasa perkawinan semacam indoglis ini, maka ada beberapa kemungkinan reaksi. Lawan bicaranya pun bisa jadi akan 1) paham dan tertawa mendengar kata2nya, atau 2) paham dan diam saja agar tidak menyinggungnya, atau 3) paham dan diam saja karena bingung menjawabnya, atau 4) tidak paham dan diam saja, atau 5) tidak paham dan tersinggung. Hihihi... Pastinya, ini sekadar intermezo koq. Sebelum kembali ke hiruk pikuk kota Jakarta yang meresahkan. Selamat pagi, dunia! uni Simply Stated at 10:17 am eh ada yg nulis ^_^ (1) Permalink Sunday, February 18, 2007 Teman-Teman Kalau mau tahu, bertegur sapa dengan kawan2 (tentu yg perempuan only Dan benarlah, ada rasa senang ketika mengetahui bahwa mereka baik2 saja, bahkan berusaha bercerita di antara keterbatasan karakter sms dan sisa2 pulsa yang mereka miliki. Selfia, teman kuliah yang selepas wisuda lalu ikut suaminya ke Papua, bercerita dengan riang setelah sebelumnya dengan polos berkata, "kabar baik2 Ada pula cerita dari Asih, si kembar yang selepas kuliah saya hampir tidak pernah bersua dengannya. Maap ya ga bisa datang pas seminar, 2 minggu lalu rumahkuh kebanjiran. di luar rumah ampe 2 meter-an. di dalam sieh seleher, gw ngungsi di tingkat 2 rumahkuh.. Asih tetap saja lucu, apalagi sepertinya sekarangia sedang hobu ber-kuh2 untuk menyebut dirinya, meski kebiasaannya menyebut diri dengan gw ttp masih nongol sesekali Masih banyak kawan2 yang semalam meramaikan rumah saya yang sunyi senyap. Mbak leli di ngawi dengan penantiannya akan si buah hati yang insya ALLAH bulan maret ini lahir (semoga dipermudah dan sehat semuanya yah), lela di medan, icha di tebet yg lg g meriang (smg lekas sehat), anis di bekasi yang lagi hobi memanggil saya dengan jeng hari, mb dyah yang lagi di bromo dalam rangka perjalanan dinas dan bercerita betapa dingin di sana, ghina di cibinong yang bercerita lagi kerja di radio. O iya, ada emmie yang dengan bangga bercerita berat badannya naik 2 kg (sip!), ada ika sari yang memberi semangat. Begitu juga dengan maya, sahabat pena saya sejak SD dari Bengkulu yang bahkan saya belum pernah bersua dengannya meski ia sekarang belajar di Yogya. Lia juga, sahabat teman saya di Unpad yang saya baru berjumpa 2 kali namun sudah sangat akrab dengan saya. Dan yang bikin ketawa adalah jawaban citra, yang bisa2nya memanggil saya "bu" padahal saya baru berjumpa dengannya sekali dan kami hanya saling tahu lewat fs. yah, mereka semua teman2 saya dengan segala kekhasan mereka masing2. tentu saya berharap memiliki lebih banyak teman lagi untuk bisa saling mendoakan. Dan, kembali ke kalimat awal tulisan ini, teman2 merupakan obat tersendiri. Ada rasa sedikit enteng setelah bertegur sapa. paling tidak ada seulas senyum membaca tulisan mereka, dan bukankah tersenyum itu obat tersendiri? Bertegur sapa dengan kawan2 begini ada kalanya dianggap pemborosan lantaran pulsa akan cepat terkuras habis, terlebih jika nomor yang dituju berbeda operator. Namun saya sama sekali tidak berpikir demikian. Saya hanya berpikir, mengapa tidak menggunakan fasilitas sms untuk bersilaturahim sehingga keterbatasan akan ruang dan waktu yang ada pada diri saya tidak menjadi kendala? Silaturahim saat ini sungguh membutuhkan keinginan yang kuat jika ingin melaksanakannya, maka ketika ada kemudahan mengapa tidak? Saya sangat tersentuh atas balasan sms teman2, karena sungguh saya tidak ingin menyulitkan kawan2 dengan keharusan menjawab sms saya. Jika toh kalian tidak membalas pun saya akan mahfum bahwa mungkin kalian sedang memiliki keterbatasan tertentu dan saya yakin bahwa pada dasarnya kalian sungguh ingin membalas. Terima kasih yak semuanya...barokallahufiikum.. uni Simply Stated at 04:28 pm eh ada yg nulis ^_^ (1) Permalink Friday, February 16, 2007 Monolog: Kereta Kita Ternyata lama juga tidak menulis di sini. Bukannya lupa, tapi ternyata ketika diminta memutuskan atas apa yang harus dilakukan sepulang urusan di luar rumah selesai, ternyata selalu memutuskan untuk pulang saja. Nggak tahu kenapa kok dari dulu nggak pernah merasa tenang kalo di luar rumah, meskipun di luar rumahnya jelas sama siapa dan jelas terlindungi Beberapa hari yang lalu, saya juga menyadari bahwa ternyata saya juga lama tidak menulis di buku harian saya. Tulisan terakhir yang saya temukan ternyata hanya satu kalimat yang menurut saya itupun sepertinya menggantung. Hanya ada kalimat alhamdulillah akhirnya seminar. Tak ada tanggal, tak ada tanda tangan seperti yang biasa saya lakukan ketika telah menuntaskan sebuah tulisan. Saya seminar akhir bulan lalu, dan hingga saya buka lagi buku itu, tak ada tulisan yang terbaru. Apakah hari2 yang saya lalui begitu hambar hingga tak ada yang bisa dituliskan? Apakah tidak ada pelajaran sedikitpun yang bisa saya petik setiap harinya? Telah begitu keraskah hati ini? Hanya bisa menghela nafas panjang. Dan berat. Have I changed? Saya lantas teringat pada folder Catatan Pinggir Kita yang ada di komputer dan saya tersenyum getir ketika menyadari bahwa saya pun lama tak menulis di dalamnya. Apakah fragmen2 itu telah kehilangan jiwa? Apakah Fragmen_Mata itu telah buta? Dan Fragmen_Telinga telah tuli? Apakah Fragmen_Tak Berasa benar2 telah tak berasa hingga tak mampu mengadukan kegundahannya? Dan Fragmen_Ta, apakah telah kehilangan makna? Lama yah, saya tidak jujur pada diri saya sendiri. Hingga tak kuasa menuliskan apapun. Mengapa seseorang menjadi tidak bisa jujur, bahkan kepada dirinya sendiri? Apakah saya sedang mencoba menutupi sesuatu? Menutupi ketidakjujuran yang lain? Menutupi, bahkan kepada diri sendiri? Apakah dengan tidak menuliskannya saya berarti sedang mencoba melupakan apa yang saya alami dan menganggapnya tidak pernah terjadi? Semacam defence mechanism, kamuflase. Begitukah? Jika demikian, tentulah ada sesuatu yang salah. Dan saya memang merasa ada yang salah dengan hidup saya. Semacam kereta yang berjalan keluar dari relnya, meski ia tetap berjalan. Yah, semacam itulah. Pertanyaan saya, bisakah kereta itu kembali ke relnya sebelum terhempas dan hancur? Serasa berhitung mundur... uni Simply Stated at 11:39 am silakan menulis di sini^_^ Permalink Tuesday, January 30, 2007 Barokallahu fiikum Saya tidak peduli bahwa saya sedang
berada di sebuah warnet yang, sebagaimana kebanyakan warnet2 di
Darmaga, tidak tersekat sehingga saya benar2 berada di tempat umum yang
terbuka. Saya tidak peduli bahwa di tempat ini butiran air mata saya
menetes satu demi satu tanpa terhenti. Menetes seiring reruntuhan hati
saya yang bergemuruh sesak. Sekali lagi saya tidak peduli seperti biasa
ketika saya sungguh ingin menumpahkan air mata.
Menuruti kata kanda, saya mampir ke sebuah blog yang sungguh membuat saya begitu terharu. Begitu terharu hingga tangan ini kembali kelu untuk bertutur. Sebuah guru yang berharga, semoga ada masa untuk begitu. Barokallahu fiikum. Amiin. uni Simply Stated at 12:14 pm silakan menulis di sini^_^ Permalink Monday, January 22, 2007 Dingin Duhai.. janganlah hati ini beranjak dingin Tak mengenal rasa, Tak mengenal cinta Duhai.. janganlah hati ini beranjak buta Tak melihat rasa, Tak melihat cinta Duhai.. hidupkanlah hati ini Tuk bersyukur dan terus bersyukur Atas semuanya .. uni Simply Stated at 03:28 pm silakan menulis di sini^_^ Permalink
|