Entry: Seorang Mbak Suatu Siang Thursday, August 02, 2007



Angkot itu baru terisi seorang penumpang, itu pun di sebelah sopir. Praktis, bangku penumpang di belakang sopir masih kompong melompong. Meski demikian, pak sopir tidak menunjukkan gelagat akan ngendon menunggu penumpang penuh di pertigaan parung-bingung yang sedang lengang. Bagus.

Sigap aku naik ke angkot itu dan sekilas sudut mataku menangkap seseorang juga tergopoh-gopoh menuju angkot yang kunaiki. Aku masuk dan mencari posisi ternyamanku di angkot. Sudut kiri belakang. Agak panas memang, karena matahari siang menerobos kaca belakang angkot itu. Tidak masalah untukku, toh matahari tidak selamanya ada di atas jendela itu. Panas sebentar mungkin bagus untuk  membuatku terus terjaga dalam perjalanan ini.

Seseorang yang kulihat dengan sudut mataku itu  juga duduk di  sisi yang sama denganku.  Mengusik ritualku  mencari posisi nyaman di angkot melalui teguran ramahnya, "Assalamu'alaikum, ukhti..". Ia mengajakku bersalaman.

Baru kali itu kuperhatikan penuh ia yang memberi salam padaku, sembari kujawab salamnya dengan senyum heran. Seorang akhwat. Bergamis coklat, berkaus kaki hitam, berkerudung coklat. Tangan kanannya memegang plastik berisi roti isi coklat dan tangan kanannya menggenggam botol air mineral kemasan tanggung. Sebuah jam tangan yang feminin terlingkar di pergelangan tangannya. Matanya bergerak2 resah, meski ia menutupinya dengan menggigit roti di tangannya dengan lahap. Agak kekanakan penampilannya, namun bukan masalah untukku.

Memberi salam sebenarnya bukanlah hal yang mengherankan. Hal yang baik, malah. Terlebih karena pada dasarnya kaum muslimin adalah saudara. Saling mendo'akan kebaikan saudara adalah hal yang sangat baik.

Agak mengherankan untukku karena sikapnya menunjukkan betapa ia telah mengenalku sebelumnya. Susah payah kugali-gali memoriku tentang sosok ini namun aku tak kunjung menemukan sekeping memoriku tentangnya. Yasudahlah, mungkin aku akan mengingatnya perlahan.

"Mbak, mau roti?" ia menawariku rotinya yang tinggal sekerat. Spontan, halus kutolak tawarannya karena aku tidak yakin pernah mengenalnya dulu. Terbersit ada yang aneh dengan mbak ini. Ah, jangan berprasangka. Nggak baik, uni..

Perjalanan dalam semilir udara siang menjadi sangat nikmat. Hingga tiba2 kudengar pekik semangat si mbak," Hidup ***!!! Hidup ***!!! Allahu akbar!!! Allahu akbar!!"

Kupandangi lekat si mbak. Runtuh sudah keherananku semula. Terkembang senyum sayang padanya dan terucap rasa syukur atas keadaanku. Pekikannya menyadarkanku siapa ia. Seorang akhwat yang entah bagaimana ceritanya terbungkus fanatisme pada partainya hingga hilang kesadarannya. Orang bilang, ia menjadi gila. Aku selalu bertanya2, sebenarnya gila itu apa?

Kulihat sopir memandang kaca spion tengah sambil mengkerutkan keningnya. Dan aku tersenyum maklum.

Si mbak masih meneruskan kenyamanannya dalam dunianya.Pindah ke kursi belakang sopir dan mulai merebahkan badannya di jok penumpang yang panjang itu. Dan mulai berangkat tidur.

Pak sopir tiba2 meminggirkan angkotnya dan turun membangunkan si mbak. Halus namun tegas mengatakan si mbak telah sampai di tujuannya untuk mengusirnya. Si mbak linglung mematuhi perintah pak sopir dan angkot pun kembali melaju tanpa si mbak.

Seperempat jam perjalananku berikutnya diisi dengan analisis pak sopir tentang partai si mbak.

(bersambung insya Allah.. mo ke dekanat dulu =D)



   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments